Keluarga Ungkap Kronologi Bambang Tewas di Pejompongan
Radio DMS Ambon Informasi Maluku Jakarta (DMS) – Keluarga mengungkap kronologi Bambang Setiyawan, warga berusia 59 tahun yang meninggal dunia setelah keluar rumah saat terjadi kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8) malam. Bambang kemudian diketahui berada di Rumah Sakit (RS) Polri sebelum akhirnya dimakamkan pada Jumat (28/8). Istri Bambang, Sudarsi (56), mengatakan dirinya masih menemani suaminya berjualan cermin di Pejompongan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Biasanya, pasangan tersebut menutup tempat usahanya sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, Sudarsi meminta Bambang menutup usaha lebih awal karena melihat massa mulai berdatangan di sekitar lokasi. “ Sebenarnya kita belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya, ‘Itu massa sudah banyak, tutup’,” kata Sudarsi kepada wartawan, Jumat. Setelah menutup tempat usaha, Sudarsi dan Bambang kemudian kembali ke rumah. Tidak lama berselang, anak mereka datang bersama seorang warga bernama Tagor yang sedang sakit. Tagor kemudian meminta diantar ke RS Pelni. Anak Bambang mengantarkan Tagor menggunakan sepeda motor, sementara Sudarsi dan Bambang tetap berada di rumah. Setelah mengantar Tagor ke RS Pelni, anak Bambang kembali ke rumah sekitar pukul 20.30 hingga 21.00 WIB. Saat itu, situasi di sekitar rumah mereka masih dipenuhi kerumunan massa. Menurut Sudarsi, massa sempat terdorong hingga masuk ke kawasan sekitar tempat tinggal mereka. Setelah situasi dinilai lebih aman, Bambang memutuskan keluar rumah untuk melihat kondisi di sekitar lokasi. Sudarsi tidak melarang kepergian suaminya karena Bambang sebelumnya memang kerap keluar ketika terjadi keramaian. Bahkan, Bambang terkadang membantu warga yang membutuhkan pertolongan. “Dia itu cuma nonton, kadang-kadang membantu ngucurin air buat cuci muka,” ujar Sudarsi. Bambang Tidak Kunjung Pulang Namun, Bambang tidak kunjung kembali ke rumah hingga larut malam. Sudarsi kemudian berusaha mencari keberadaan suaminya hingga sekitar pukul 01.30 WIB. Ia juga mendatangi lokasi dan meminta teman-teman Bambang memberi kabar apabila menemukan suaminya. “Saya masih berharap ketemu. Saya ke situ, enggak ada,” ucap Sudarsi. Sekitar pukul 02.30 WIB, Sudarsi kembali ke rumah dan beristirahat selama kurang lebih 1,5 jam. Setelah terbangun, ia membuka pesan WhatsApp dan mendapati pesan dari Tagor yang sebelumnya diantar anaknya ke RS Pelni. Tagor sempat mengira pesan WhatsApp yang dibalas tersebut berasal dari Bambang. Setelah mengetahui bahwa yang membalas adalah Sudarsi, anak Bambang yang berada di RS Pelni kemudian kembali ke rumah. Keluarga pun menyadari Bambang masih belum diketahui keberadaannya. Keluarga Mengetahui Bambang dari Video Kepastian mengenai kondisi Bambang diperoleh keluarga sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB. Saat itu, anak Bambang menerima sebuah video dan diminta memastikan sosok yang terlihat di dalam rekaman tersebut. Setelah melihat video itu, keluarga memastikan sosok yang terlihat merupakan Bambang. “Kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas posisi dia, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita enggak tahu,” ungkap Sudarsi. Tidak lama kemudian, keluarga mendapat informasi bahwa Bambang telah dibawa ke RS Polri. Sudarsi mengatakan Bambang diduga telah meninggal dunia di lokasi kejadian sebelum kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun, keluarga belum mengetahui secara lengkap hasil pemeriksaan terhadap kondisi Bambang. Menurut keterangan keluarga, Bambang hanya menjalani pemeriksaan luar di rumah sakit. Bambang kemudian dimakamkan pada Jumat (28/8) setelah shalat Jumat di kawasan Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat. Sebelumnya, sejumlah unsur pemerintah wilayah juga telah mendatangi keluarga Bambang. Mereka antara lain camat, lurah, dan Babinsa yang datang untuk mengetahui kondisi keluarga setelah kejadian tersebut.